Program Cegah Karhutla Sejahterakan Masyarakat

Program Cegah Karhutla Sejahterakan Masyarakat
Program Cegah Karhutla Sejahterakan Masyarakat Info Gambar :

 

Aktifitas pemanfaatan kawasan hutan selain berdampak pada peningkatan ekonomi, juga membawa ekses negatif terhadap lingkungan. Khususnya pada kebakaran hutan dan lahan yang terjadi nyaris setiap tahun. National Geografik bahkan menyebutkan dampak karhutla di tahun 1997 meningkatkan kasus stunting di Indonesia. Fakta itu terungkap dalam audiensi yang dilakukan Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Wilayah Kabupaten Kubu Raya bersama sejumlah mitra kerja dengan Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan di Kantor Bupati Kubu Raya, Jumat (8/3) akhir pekan lalu.

“Banyak desa yang berada di dalam atau sekitar kawasan hutan. Masyarakat mengelola dan memanfaatkan kawasan tersebut untuk beragam tujuan. Di antaranya pertanian, perkebunan, perternakan, juga pemukiman. Jumlahnya mencapai 45 desa, yakni 8 desa dalam kawasan hutan dan 37 desa di sekitar kawasan hutan,” papar Ponti Wijaya, Kepala UPT KPH Kabupaten Kubu Raya.

Ponty menerangkan sejak tahun 2017, pihaknya menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra kerja. Di antaranya melalui proyek kerja sama pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman. Kerja sama tersebut untuk mendorong pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kubu Raya. Kerja sama juga dilakukan dengan beberapa organisasi nonpemerintah, seperti WWF Indonesia, Bentang Kalimantan, Sampan, dan IDH.

“Audiensi dengan Bupati Kubu Raya ini bertujuan menyosialisasikan program kerja UPT KPH Kubu Raya bersama mitra kerja lainnya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program pencegahan karhutla. Kita ingin membangun kerja sinergis melalui program pemberdayaan masyarakat khususnya antara KPH Kubu Raya dengan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya,” tuturnya.

Ponti menjelaskan sejumlah kegiatan yang sudah dilakukan pihaknya. Di antaranya pemberian bantuan dari Kementerian Kehutanan untuk kegiatan ekonomi masyarakat seperti budi daya kepiting, madu mangrove, dan arang batok kelapa. UPT KPH bersama mitra kerja juga akan menerapkan konsep agro forestry, yakni pemanfaatan kawasan hutan dengan tanaman-tanaman lain yang punya nilai produksi tinggi. Seperti petai, jengkol, serai wangi, dan kayu putih.

“Tahun ini sudah dianggarkan untuk pemberian bantuan bibitnya termasuk pupuk, herbisida, dan prasarana dan sarana lengkap. Kalau ini berhasil, tahun depan kita siapkan juga mesin sulingnya. Jadi kegiatan ini akan terus berlanjut dan mudah-mudahan nantinya bisa menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat di Kubu Raya,” harapnya.

Terkait upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla, Ponty menyebut pihaknya bersama mitra kerja telah membuat peta rawan kebakaran dan peta kesiapan penanggulangan karhutla. Peta tersebut menurutnya berbeda dengan yang dimiliki Manggala Agni. Yang dimiliki UPT KPH berdasarkan peta tutupan lahan dan ketebalan gambut serta histori terjadinya kebakaran di daerah bersangkutan.

“Ke depan juga akan dibuat peta kesiapan karhutla misalnya berdasarkan titik keberadaan Masyarakat Peduli Api atau MPA yang sudah terbentuk. Jadi kalau terjadi kebakaran, bisa dilihat daerah terdekat mana yang bisa dimintakan bantuan penanggulangan,” tambahnya.

Ponty mengungkapkan pihaknya juga tengah membuat desa model. Tujuannya agar masyarakat tidak melakukan aktivitas ladang berpindah. Sehingga diharapkan tidak ada lagi kegiatan pembakaran lahan.

“Jadi kita tidak melarang mereka membakar, namun mencegah mereka untuk berpindah. Terencananya tiga desa model itu adalah hasil kolaborasi UPT KPH, Manggala Agni, BPBD Kubu Raya, dan GIZ FORCLIME Indonesia-Jerman,” terangnya.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengapresiasi kiprah UPT KPH bersama para mitra kerjanya di Kabupaten Kubu Raya. Menurut dia, berbagai program dan kegiatan tersebut sangat melegakan masyarakat karena memberikan alternatif-alternatif aktivitas produktif yang bisa dilakukan warga.

“Yang penting masyarakat memang harus dikawal dan didampingi secara hilirnya juga. Nanti kalau hulunya sudah dilakukan, bagian hilirnya ini yang kita harus keroyokan. Supaya ada pasar yang memberikan keyakinan dan harapan kepada mereka. Karena memang semua problem komoditas masyarakat ini selalu berakhir pada soal pasar,” tutur Muda.

Menurut Muda, sektor budi daya harus terus digalakkan. Baik di bidang perikanan, pertanian, perkebunan, dan seterusnya. Dengan begitu bisa terjadi pergeseran profesi masyarakat menjadi lebih aman, terencana, dan tidak instan. Hal itu, menurutnya, searah dengan yang sedang dikembangkan pemerintah daerah saat ini.

“Kita sangat mengapresiasi dan tinggal memikirkan untuk nanti mencari inovasi pada hilirisasi produknya. Mencari pasar sistemnya atau apa yang bisa menjamin itu semua,” sebutnya.

Muda berharap pertemuan dirinya dengan UPT KPH dan para mitra kerja dapat menghasilkan kesepakatan yang sinergis mengenai program Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dengan UPT KPH Kubu Raya.

“Khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan dalam hutan melalui program pencegahan kebakaran hutan dan lahan dan pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya. (rio)

BERITA LAINNYA

  • Minggu, 17 Maret 2019
Olahraga Menembak Mulai Semarak
  • Minggu, 17 Maret 2019
Muda: Kawin Muda Sepok